Lumpur yang Menyisakan Cahaya

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025 - 06:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

Lumpur yang Menyisakan Cahaya

Cerpen.

Medan , 08/12/2025 / antara news.id

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hujan turun tanpa jeda sejak subuh di sebuah desa kecil di Aceh. Langit kelabu seperti diselimuti kecemasan. Di kaki bukit, rumah-rumah berdiri rapat, sebagian masih dari papan, sebagian lagi sudah setengah permanen. Tak ada yang menyangka sore itu, suara gemuruh akan datang lebih cepat daripada doa yang sempat terucap.
“Air! Dari atas gunung!” teriak seorang pemuda yang baru pulang dari kebun.

Dalam hitungan detik, air bercampur lumpur meluncur deras. Warga berhamburan. Sebuah rumah di dekat aliran kecil mulai miring, dasar tanahnya terkikis, hampir roboh. Dari dalam rumah itu, terdengar suara seorang nenek yang memanggil lemah.

“Anak… tolong…!”

Rafi, pemuda itu, tak berpikir panjang. Ia berlari melawan arus lumpur, tubuhnya diguyur hujan dan tanah. Di antara gemuruh air, ia berteriak memanggil warga lain.

“Bantu! Ada orang di dalam!”

Beberapa laki-laki segera datang. Mereka membentuk barisan, saling berpegangan agar tidak hanyut. Rafi menerobos masuk ke rumah yang hampir tertimbun. Dengan senter kecil di tangan, ia menemukan si nenek duduk di sudut ruangan, tubuhnya bergetar.

“Mak, pegang tangan saya. Kita keluar,” katanya lembut.

Di tengah suara gemuruh yang menakutkan, nenek itu masih sempat berbisik, “Allah pasti tolong orang yang menolong. Kamu jangan lepaskan tangan Mak, nak.”

Dengan hati-hati, mereka menarik nenek itu keluar. Saat kaki mereka menginjak tanah yang lebih stabil, rumah itu akhirnya roboh perlahan, terseret lumpur. Semua yang melihat hanya bisa menarik napas panjang… sekaligus bersyukur.

Setelah keadaan sedikit mereda, warga berkumpul di mushala kecil desa. Listrik padam, hanya cahaya lampu minyak yang menyala redup. Mereka memeriksa siapa yang selamat, siapa yang belum ditemukan, dan siapa yang kehilangan rumah.

Baca Juga:  Pangkoops Udara I Hadiri Pasar Murah Dalam Rangka HUT Ke-68 Pia Ardhya Garini

Pak Imam menenangkan suara-suara tangis yang pecah pelan.

“Saudaraku, musibah ini berat. Tapi Allah tidak menurunkan cobaan kecuali dengan hikmah. Lihatlah, hari ini kita selamat karena saling membantu. Inilah yang diajarkan agama: ‘Tolong-menolonglah dalam kebaikan.’ Kalau kita saling tinggalkan, mungkin lebih banyak yang hilang.”

Orang-orang saling menatap. Ada yang memeluk keluarganya, ada yang menundukkan kepala, menghapus air mata.

Nenek yang tadi diselamatkan Rafi duduk di dekat tiang mushala, memegang tangan pemuda itu erat-erat.

“Allah kirimkan Mak penolong hari ini,” katanya pelan. “Bukan karena kamu kuat, tapi karena hatimu tergerak.”

Rafi menunduk. “Saya cuma melakukan apa yang semestinya, Mak.”

Di luar mushala, hujan mulai reda. Lumpur masih menggenang, bau tanah bercampur pohon-pohon yang tumbang. Desa itu porak-poranda. Namun di tengah kehancuran, ada sesuatu yang justru menguat: kebersamaan.

Warga memasak bersama, menyalakan api, membagikan makanan seadanya. Yang masih punya rumah membuka pintu bagi yang kehilangan tempat tinggal. Yang muda membantu membersihkan sisa-sisa lumpur, sementara yang tua membaca doa, memohon keteguhan hati.

Di tengah malam yang gelap, Pak Imam kembali berucap, “Bencana kadang mengambil banyak. Tapi ia juga mengingatkan kita pada apa yang tidak bisa lumpur bawa pergi iman, dukungan, dan rasa kemanusiaan.”

Rafi memandang langit yang mulai terang sedikit, walau awannya masih tebal. Di antara puing dan air yang surut, ia merasa ada cahaya yang muncul kembali bukan cahaya dari matahari, tapi cahaya dari hati orang-orang yang tak menyerah.

Dan malam itu, Aceh yang basah lumpur justru terasa lebih hangat dari sebelumnya. ( Red / Halimah Tusahdiah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel antara-news.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang tua mahasiswa kecewa diduga oknum dosen Arsitektur USU intimidasi dan tolak mahasiswa ikut perkuliahan.
Kasus Dugaan Premanisme terhadap Anggota BRN di Pasuruan Naik Sidik, Kuasa Hukum: Negara Tak Boleh Kalah
Turut Merasakan Penderitaan Warga, Puspomad Bantu Masyarakat yang Terkena Banjir Bandang di wilayah Aceh Tamiang
Mobil Toyota Avanza Terbakar Hebat di SPBU Garegeh Bukittinggi, Dugaan Akibat Melangsir BBM
Ulama Gus Yazid Tertangkap TPPU Rp 20 Miliar – JAM Pidsus Harus Teliti Sampai Akhir, Tak Biarkan Pejabat Jateng Lolos!
Tindakan Reza Pahlevi Lubis ; Tantangan terhadap keputusan DPP Golkar , Khatar pecah belah di Sumut .
Aturan adalah aturan ; Ahmad Doli sebagai PLT Golkar Sumut adalah keputusan benar
Asefiesta 2025 Digelar Meriah – Festival Tari Serampang XII dan Kreasi Daerah Bakal Bawa Budaya Melayu Ke Dunia!
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 10:07 WIB

Orang tua mahasiswa kecewa diduga oknum dosen Arsitektur USU intimidasi dan tolak mahasiswa ikut perkuliahan.

Selasa, 30 Desember 2025 - 13:34 WIB

Kasus Dugaan Premanisme terhadap Anggota BRN di Pasuruan Naik Sidik, Kuasa Hukum: Negara Tak Boleh Kalah

Minggu, 28 Desember 2025 - 06:17 WIB

Turut Merasakan Penderitaan Warga, Puspomad Bantu Masyarakat yang Terkena Banjir Bandang di wilayah Aceh Tamiang

Sabtu, 27 Desember 2025 - 05:52 WIB

Mobil Toyota Avanza Terbakar Hebat di SPBU Garegeh Bukittinggi, Dugaan Akibat Melangsir BBM

Jumat, 26 Desember 2025 - 03:01 WIB

Ulama Gus Yazid Tertangkap TPPU Rp 20 Miliar – JAM Pidsus Harus Teliti Sampai Akhir, Tak Biarkan Pejabat Jateng Lolos!

Berita Terbaru