Lumpur yang Menyisakan Cahaya
Cerpen.
Medan , 08/12/2025 / antara news.id
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hujan turun tanpa jeda sejak subuh di sebuah desa kecil di Aceh. Langit kelabu seperti diselimuti kecemasan. Di kaki bukit, rumah-rumah berdiri rapat, sebagian masih dari papan, sebagian lagi sudah setengah permanen. Tak ada yang menyangka sore itu, suara gemuruh akan datang lebih cepat daripada doa yang sempat terucap.
“Air! Dari atas gunung!” teriak seorang pemuda yang baru pulang dari kebun.
Dalam hitungan detik, air bercampur lumpur meluncur deras. Warga berhamburan. Sebuah rumah di dekat aliran kecil mulai miring, dasar tanahnya terkikis, hampir roboh. Dari dalam rumah itu, terdengar suara seorang nenek yang memanggil lemah.
“Anak… tolong…!”
Rafi, pemuda itu, tak berpikir panjang. Ia berlari melawan arus lumpur, tubuhnya diguyur hujan dan tanah. Di antara gemuruh air, ia berteriak memanggil warga lain.
“Bantu! Ada orang di dalam!”
Beberapa laki-laki segera datang. Mereka membentuk barisan, saling berpegangan agar tidak hanyut. Rafi menerobos masuk ke rumah yang hampir tertimbun. Dengan senter kecil di tangan, ia menemukan si nenek duduk di sudut ruangan, tubuhnya bergetar.
“Mak, pegang tangan saya. Kita keluar,” katanya lembut.
Di tengah suara gemuruh yang menakutkan, nenek itu masih sempat berbisik, “Allah pasti tolong orang yang menolong. Kamu jangan lepaskan tangan Mak, nak.”
Dengan hati-hati, mereka menarik nenek itu keluar. Saat kaki mereka menginjak tanah yang lebih stabil, rumah itu akhirnya roboh perlahan, terseret lumpur. Semua yang melihat hanya bisa menarik napas panjang… sekaligus bersyukur.
Setelah keadaan sedikit mereda, warga berkumpul di mushala kecil desa. Listrik padam, hanya cahaya lampu minyak yang menyala redup. Mereka memeriksa siapa yang selamat, siapa yang belum ditemukan, dan siapa yang kehilangan rumah.
Pak Imam menenangkan suara-suara tangis yang pecah pelan.
“Saudaraku, musibah ini berat. Tapi Allah tidak menurunkan cobaan kecuali dengan hikmah. Lihatlah, hari ini kita selamat karena saling membantu. Inilah yang diajarkan agama: ‘Tolong-menolonglah dalam kebaikan.’ Kalau kita saling tinggalkan, mungkin lebih banyak yang hilang.”
Orang-orang saling menatap. Ada yang memeluk keluarganya, ada yang menundukkan kepala, menghapus air mata.
Nenek yang tadi diselamatkan Rafi duduk di dekat tiang mushala, memegang tangan pemuda itu erat-erat.
“Allah kirimkan Mak penolong hari ini,” katanya pelan. “Bukan karena kamu kuat, tapi karena hatimu tergerak.”
Rafi menunduk. “Saya cuma melakukan apa yang semestinya, Mak.”
Di luar mushala, hujan mulai reda. Lumpur masih menggenang, bau tanah bercampur pohon-pohon yang tumbang. Desa itu porak-poranda. Namun di tengah kehancuran, ada sesuatu yang justru menguat: kebersamaan.
Warga memasak bersama, menyalakan api, membagikan makanan seadanya. Yang masih punya rumah membuka pintu bagi yang kehilangan tempat tinggal. Yang muda membantu membersihkan sisa-sisa lumpur, sementara yang tua membaca doa, memohon keteguhan hati.
Di tengah malam yang gelap, Pak Imam kembali berucap, “Bencana kadang mengambil banyak. Tapi ia juga mengingatkan kita pada apa yang tidak bisa lumpur bawa pergi iman, dukungan, dan rasa kemanusiaan.”
Rafi memandang langit yang mulai terang sedikit, walau awannya masih tebal. Di antara puing dan air yang surut, ia merasa ada cahaya yang muncul kembali bukan cahaya dari matahari, tapi cahaya dari hati orang-orang yang tak menyerah.
Dan malam itu, Aceh yang basah lumpur justru terasa lebih hangat dari sebelumnya. ( Red / Halimah Tusahdiah)















